Jumat, April 10, 2009

SBY Siapkan Koalisi Megawati Bertemu Wiranto

Keterangan Foto: Pertemuan pertama Megawir untuk bahas kecurangan pemilu. (don)

border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323229589867242834" />


Keterangan Foto : Sby harap ada written koalisi dengan partai pendukung (eas)



KRC, BOGOR -
Partai Demokrat, agaknya, sudah merasa menjadi pemenang pada pemilu kali ini. Setelah diunggulkan semua lembaga survei melalui quick count, partai tersebut kemarin mulai berancang-ancang menyiapkan skenario koalisi menuju pemilihan presiden (pilpres). Termasuk membuka peluang berkoalisi kembali dengan Golkar.

Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat yang juga Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengajukan syarat untuk koalisi. Dia menyatakan, format koalisi harus menjamin pemerintahan yang efektif dalam lima tahun ke depan.

SBY kemarin mengumpulkan sejumlah pentolan Partai Demokrat di kediamannya, Puri Cikeas Indah, Bogor. Sejak siang kemarin, para pengurus Partai Demokrat sudah berada di Cikeas. Di antara mereka adalah Ketua Umum Partai Demokrat Hadi Utomo, Achmad Mubarok (wakil ketua umum), Marzuki Alie (Sekjen), Anas Urbaningrum (ketua), Andi Mallarangeng (ketua departemen SDM), Hayono Isman, Jero Wacik, dan Taufik Effendy.

Menurut SBY, Partai Demokrat mulai melakukan penjajakan terhadap berbagai partai politik untuk membangun koalisi dalam Pilpres 2009. ''Kalau koalisi ini berhasil, kami teruskan hingga lima tahun ke depan,'' kata SBY saat konferensi pers di kediamannya, Puri Cikeas Indah, Bogor, kemarin.

Partai Demokrat, kata SBY, terbuka berkoalisi dengan partai politik mana pun. Namun, tegas dia, pihaknya tidak akan memaksakan berkoalisi dengan partai politik yang sudah terang-terangan menolak bekerja sama dengan Partai Demokrat. ''Saya sudah mendengar ada partai politik yang menyatakan say no kepada Partai Demokrat. Ya saya hormati,'' kata SBY.

Tapi, sebagian besar parpol, lanjut SBY, sejak awal terus berkomunikasi secara informal, langsung maupun tidak langsung. Dan, komunikasi tersebut, kata dia SBY, akan diintensifkan sehingga ada kesepakatan koalisi yang kuat. Beberapa parpol tersebut, kata SBY, adalah PKB, PKS, PAN, PKPI, Pelopor, dan PBB.

''Belajar dari pengalaman koalisi yang sekarang (2004-2009), terutama di parlemen dan juga di pemerintahan, koalisi yang akan datang harus rules based. Kontrak politiknya harus jelas. Etika dalam berkoalisi harus dijalankan. Semua harus written, tertulis dalam suatu piagam kesepakatan koalisi,'' kata SBY.

Dengan kesepakatan koalisi secara tertulis dalam piagam, menurut SBY, publik bisa mengontrol parpol mana yang taat atau tidak taat terhadap kesepakatan. Dengan kesepakatan yang benderang seperti itu, lanjut SBY, rakyat tidak lagi dibingungkan sikap parpol dalam koalisi.

Mengapa Partai Demokrat membuat batasan tegas dalam koalisi? ''Kepentingan saya hanya satu. Begitu koalisi terbentuk, pemerintah harus efektif dalam menjalankan tugas. Hubungan pemerintah dengan DPR harus berjalan sehat, tanpa mengurangi daya kritis dewan,'' tutur SBY. Dengan begitu, kata SBY, undang-undang atau kebijakan yang dikeluarkan sama-sama dikelola oleh pemerintah dan DPR.

Seperti apa format aturan main koalisi tersebut? Menurut SBY, tim Partai Demokrat sedang menyusun dan menelaah dengan logika dan nalar sehat. Namun, pada dasarnya harus terbangun sikap mental dan mind set bahwa semua parpol dalam koalisi bersama-sama, saling mendukung, dan saling memberikan masukan.

SBY mencontohkan, salah satu partai politik dalam koalisi mengusulkan mengganti menterinya di kabinet, harus dibicarakan antara presiden dan parpol yang bersangkutan. Tidak bisa kemudian parpol tersebut secara sepihak mengumumkan bahwa menteri tersebut tidak lagi mewakili parpol. Situasi itu pernah terjadi di PKB bahwa Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB Abdurrahman Wahid tiba-tiba menyatakan tidak mengakui Menteri Tenaga Kerja Erman Suparno dan Menteri PDT Lukman Edy sebagai wakil PKB di kabinet.

''Ini juga salah satu etika yang harus dibangun dalam koalisi mendatang. Ini tidak luar biasa dan tidak aneh, semua bisa diikuti dengan akal sehat. Saya yakin, rakyat akan senang karena pada prinsipnya ini transparansi yang baik dalam sebuah demokrasi,'' kata SBY.

Dengan koalisi yang kuat, ujar SBY, ke depan tidak mudah terjadi benturan antara pemerintah dan fraksi yang berada dalam koalisi atau bahkan dalam kabinet sendiri. ''Misalnya, apa tepat seorang menteri berangkat dari koalisi menghantami kebijakan pemerintah yang dia juga masih berada di dalam pemerintahan. Di negara mana pun mestinya he must be out. Ini harus jelas nanti. Rakyat juga menginginkan kejelasan seperti itu,'' paparnya.

Duet SBY-JK Berlanjut?

Penghitungan suara pemilu legislatif di KPU baru selesai awal Mei nanti. Namun, Partai Golkar kemarin sudah mengakui keunggulan Partai Demokrat dengan selisih suara hampir enam persen.

Setelah melaksanakan salat Jumat di Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, kemarin, Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla langsung menelepon Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam komunikasi melalui telepon selama sekitar sepuluh menit tersebut, Jusuf Kalla menyampaikan selamat atas kemenangan Demokrat pada pemilu legislatif.

''Selama sepuluh menit tadi Pak JK (Jusuf Kalla, Red) menelepon Pak SBY. Pak JK bilang selamat atas kemenangan sementara Partai Demokrat dan Pak SBY bilang terima kasih, ini kemenangan kita bersama,'' ujar Press Officer Wakil Presiden Muchlis Hasyim di luar kediaman dinas wakil presiden di Jalan Diponegoro No 2, Jakarta Pusat.

Komunikasi telepon dengan SBY ternyata salah satu upaya yang dilakukan Golkar untuk kembali merapat ke Demokrat. Upaya untuk segera berkomunikasi dengan Partai Demokrat adalah salah satu rekomendasi yang dihasilkan dalam rapat internal DPP Partai Golkar di Posko Slipi II pada Kamis malam. ''Selain sebagai etika politik dua partai yang saat ini masih berkoalisi di pemerintahan, ucapan selamat itu memang salah satu upaya komunikasi politik dengan Partai Demokrat,'' ujar Ketua DPP Partai Golkar Theo L. Sambuaga ketika dihubungi kemarin.

SBY sendiri belum menutup pintu bagi JK untuk kembali bersamanya dalam pilpres mendatang. Tapi, SBY terkesan jual mahal, karena Kalla bukan satu-satunya pilihan cawapres. ''Untuk cawapres, tunggu tanggal mainnya. Banyak calon yang bagus. Ada Pak JK, ada juga bukan Pak JK. Saya kira banyak peluang,'' kata SBY.

Mengenai percakapan telepon dengan JK, SBY membenarkan. Bagi SBY, mengucapkan selamat merupakan budaya yang baik. SBY mengaku juga sering mengucapkan selamat kepada pihak mana pun meski tidak selalu diketahui media massa.

''Saya juga kaget karena belum lama Pak JK berkomunikasi dengan saya. Ya, beliau menelepon saya setelah salat Jumat tadi yang intinya mengucapkan selamat,'' kata SBY.

''Saya juga sampaikan terima kasih pemilu ini berjalan dengan baik dan mari kita lanjutkan komunikasi kita ke depan dalam format yang sudah saya jelaskan tadi,'' lanjut SBY.

Komunikasi dengan JK kemarin, kata SBY, baru sebatas saling memberikan ucapan selamat dan menanyakan kabar. Belum ada pendalaman apa pun. Namun, bagi SBY, komunikasi tersebut merupakan awal yang baik untuk menggagas koalisi dengan Partai Golkar dan beberapa tokoh partai lain.

PDIP Gandeng Hanura-Gerindra

PDI Perjuangan mulai merapatkan barisan. Tadi malam Ketua Umum Partai Hanura Wiranto menemui Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Embrio koalisi melawan Partai Demokrat mulai dibangun.

''Memang belum ada hasil formal dari penghitungan manual. Tetapi, paling tidak sudah ada satu peta politik. Hari ini (tadi malam, Red) saya ketemu Bu Mega, besok (hari ini, Red) saya ketemu Pak Suryadharma,'' katanya sebelum menemui Megawati.

Setelah satu jam menemui Megawati, Wiranto mengatakan bahwa pertemuan tersebut merupakan salah satu rangkaian gerakan politiknya. ''Tadi saya sampaikan kepada Bu Mega bahwa saya menjanjikan setelah pemilu selesai, saya akan melakukan suatu komunikasi politik dengan semua parpol,'' katanya.

Wiranto lantas menyebut beberapa partai yang akan digandeng. Selain PPP, Wiranto akan menggandeng Partai Gerindra. Bahkan, dia mengatakan akan menemui ketua dewan pembina partai tersebut secara langsung, yakni Prabowo Subianto.

Menurut dia, semua partai, termasuk Gerindra, akan digandeng. ''Kenapa heran? (Kami) tidak ada masalah

Selasa, Januari 27, 2009

Jubir Presiden : Biar Tak Berkepanjangan Semua Harus Legowo

KRC, Surabaya -
Berbagai harapan dan keinginan diutarakan oleh banyak pihak agar tidak ada tuntutan atau pun gugatan yang dilayangkan ke Mahkamah Konstitusi (MK) terkait proses pemilihan gubernur (Pilgub) Jatim.

Kini giliran Andi Malarangeng jubir Presiden SBY yang berharap kepada semua pihak diminta untuk legowo menerima hasil pilgub.

"Rakyat capek juga terus menerus disuruh lagi, mau digugat lagi, dan sudah tiga kali ini rekor. Saya kira legowolah," ujar Andi kepada wartawan di Hotel Shangri-La, Jalan Mayjend Sungkono, Surabaya, Rabu (27/1/2009).

Kalau pun memang ada pelanggaran, kata pria yang terkenal dengan kumis hitamnya tersebut lebih baik diselesaikan dengan aturan yang ada.

"Yang melanggar itu berapa, itu yang dihukum. Tapi itu semua apa namanya ada mekanisme. Meminjam istilah televisi dibungkus sudah, semua legowo dan hidup berlanjut," tandasnya.

Pasangan Ka-Ji berencana mengajukan gugatan lagi ke Mahkamah Konstitusi (MK) terkait coblosan ulang di Bangkalan dan Sampang. Tim Ka-Ji menganggap terjadi pelanggaran di Pulau Madura selama pelaksanaan coblosan ulang.(ard)

Hadang SBY Bentrok Dengan Aparat


Keterangan Foto : Sby datang Mahasiswa Demo (ard)

KRC, MALANG,
— Puluhan demonstran dari Aliansi Mahasiswa Anti Badan Hukum Pendidikan (AMAB) yang berniat menghadang kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa (27/1), bentrok kecil dengan aparat kepolisian di Jalan Mayjen Pandjaitan Kota Malang.

Setelah upaya menembus barikade polisi gagal, demonstran kemudian memutuskan tiduran di jalan. Presiden datang ke Malang untuk meresmikan sejumlah fasilitas pendidikan di kota tersebut.

Tanda-tanda bentrok muncul sejak pukul 10.00. Mahasiswa dari elemen SMN, FMN, FORBAS, KOMMA, dan sebagainya mulai merangsek mendekati pintu gerbang Unibraw. SBY dijadwalkan datang ke Unibraw pukul 10.25. Setidaknya tiga kali para demonstran tersebut mencoba menembus barikade polisi bertameng. Namun, semakin mereka merangsek, semakin kuat polisi mendorong menjauhkan mereka dari gerbang belakangUnibraw.

"Kenapa kami dilarang bertemu SBY? Kami hanya ingin bertemu dan berbicara dengan kepala negara sebagai wakil kami di pemerintahan?" teriak anggota aksi, Bram.

Setelah upayanya menembus dua lapis barikade polisi gagal, lebih dari 50-an demonstran tersebut akhirnya memutuskan tidur-tiduran di jalanan. Mereka terkapar di jalanan sejak pukul 10.50-11.20. "Kita tidak akan lelah memperjuangkan nasib rakyat. Ini salah satu bentuk aksi damai kami untuk memperjuangkan hak-hak rakyat," ujar Bram.(ard)

Rabu, Januari 21, 2009

Tiga Agenda Penting Barack Obama


KRC,WASHINGTON
Sehari sesudah pelantikan, Presiden Barack Obama bakal berjumpa dengan tiga agenda penting. Semuanya berlangsung hari Rabu (21/1) di Washington.

Pertama, Presiden Obama akan bertemu dengan para penasihat senior ekonomi. Dalam kesempatan itu, topik pembicaraan adalah rencana stimulus untuk menggeliatkan kembali sektor perekonomian.

Lalu, Presiden yang ke-44 AS ini juga bakal bertemu dengan petinggi pertahanan dan militer untuk membicarakan soal penarikan pasukan AS dari Irak. Ketiga, Presiden Obama juga direncanakan mencermati pertemuan dengan Komite Keuangan Senat. Soalnya, dalam kesempatan itu ada dengar pendapat dengan nominee Menteri Keuangan Timothy Geithner.(ard)

Karsa Masih Unggul Pilgub Ulang di Bangkalan




KRC,BANGKALAN
Dominasi pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (Karsa) di Madura, agaknya, sulit digeser pasangan Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji). Dari penghitungan sementara coblosan ulang pilgub Jatim di Sampang dan Bangkalan kemarin, Karsa berhasil unggul dari Kaji.

Hanya, meski untuk sementara memimpin perolehan suara pada coblosan ulang kemarin, belum tentu Karsa yang akan keluar sebagai pemenang pilgub Jatim. Sebab, mereka masih harus menunggu penghitungan final di KPU Bangkalan dan Sampang. Selain itu, menang atau tidaknya Karsa juga ditentukan oleh selisih suaranya dengan Kaji.

Jika tanpa mengikutkan Bangkalan dan Sampang, Kaji lebih unggul daripada Karsa dalam perolehan suara pilgub Jatim. Kaji memperoleh 7.336.159 suara, sedangkan Karsa 7.196.800. Selisihnya 139.359 suara. Itu berarti, Karsa bisa menang di coblosan ulang kemarin jika selisih perolehan suaranya dengan Kaji lebih dari 139.359 suara.

Hingga berita ini diturunkan, hasil final coblosan ulang pilgub Jatim di Bangkalan dan Sampang memang belum bisa diketahui. Sebab, masih harus menunggu rekapitulasi yang dilakukan KPU Bangkalan dan KPU Sampang. Meski demikian, masing-masing tim pemenangan kemarin sudah merilis data versi mereka.

Data yang dirilis tim Kaji, misalnya, melalui tim teknologi informasi Pemuda Pancasila (PP) hingga pukul 18.30, dari 1.418 TPS di Bangkalan dan Sampang, Kaji memperoleh 147.812 suara dan Karsa 237.150 suara.

"Tapi, hitungan itu masih belum final. Kami optimistis hasilnya akan berbanding sedikit," kata salah satu tim sukses Kaji, La Nyalla Mattalitti, kemarin.

Data yang diperoleh tim Karsa lain lagi. Dari hasil real quick count (penghitungan manual cepat), mereka membeber data: di Bangkalan, Karsa meraih 254.221 suara dan Kaji 144.216 suara (selisih 110.005 suara).

Sedangkan di Sampang, Karsa mengklaim berhasil unggul dengan selisih 63.772 suara. Rinciannya, Karsa mendapat 211.285 suara dan Kaji 147.513 suara. "Ini adalah hasil laporan seluruh saksi kami di TPS. Sehingga, kami sangat optimistis data ini cukup bisa menjadi pegangan," kata cawagub Saifullah Yusuf kemarin.

Bahkan, Saifullah berani mengklaim bahwa Karsa berhasil mendapat tambahan suara di semua daerah di Bangkalan. "Meski angka golput cukup tinggi, tapi ditutup perolehan suara Karsa yang sangat signifikan," jelasnya.

Meski demikian, Saifullah menegaskan bahwa hitungan itu bukan hasil resmi. "Prinsipnya sama, kami tetap akan menunggu hitungan manual KPU. Mari kita hormati bersama," katanya.

Di bagian lain, pelaksanaan coblosan ulang di Bangkalan dan Sampang kemarin diwarnai beberapa peristiwa menarik. Salah satunya di Bangkalan. Di sana, ditemukan empat bocah di bawah umur kedapatan mencoblos. Pelanggaran itu ditemukan saat Kapolda Irjen (Pol) Herman Sumawiredja menggelar sidak di TPS 7 dan 8 Kampung Ru'beruk, Desa Baipajung, Tanah Merah. Pada putaran kedua, TPS tersebut diindikasikan melakukan pelanggaran karena suara Kaji saat itu nol.

Temuan pertama terjadi saat Herman dan aparat polda mengetahui dua bocah ikut antrean akan menyoblos. Keduanya bernama Samsul Arifin dan Zainal Arifin. Saat ditanya, keduanya mengaku masih berumur 15 tahun.

Yang mengejutkan, mereka sudah tercatat dalam DPT (daftar pemilih tetap). Yang menarik, dalam DPT itu, kedua bocah tersebut tercatat berusia cukup untuk nyoblos. Umur Samsul tercatat 23 tahun dan Zainal 19 tahun.

Yang juga membuat kaget Kapolda saat itu, Zainal Arifin mengaku datang ke TPS karena disuruh salah satu apel (pamong desa) untuk menyoblos salah satu kandidat.

Temuan kedua terjadi beberapa menit kemudian. Kapolda bersama rombongan menemukan dua bocah perempuan. Mereka adalah Siti Rosilah, 15, dan Ismiyatun Hasanah, 12. Yang menarik, keduanya ternyata luput dari pantauan aparat keamanan. Mereka sudah masuk dan ikut menyoblos di TPS 8.

Setelah keluar dari TPS, barulah keduanya diketahui petugas dari kepolisian. "Saya sudah menyoblos Mas," kata anak yang mengaku Risalatul (nama aslinya Siti Rosilah, Red) itu.

Rosilah yang sudah punya tunangan itu mengaku juga disuruh pamong desanya untuk menyoblos salah satu kandidat. "Saya kan cuma disuruh datang ke sini untuk nyoblos, ya sudah nyoblos," tuturnya saat ditanya Jawa Pos di TPS.

Bahkan, kontroversi itu sampai-sampai disikapi serius. Tak lama berselang, Kapolda menggelar pertemuan dengan Bupati Bangkalan Fuad Amin, para anggota KPU Bangkalan, KPU Jatim, dan Panwaskab. Bahkan, Wakil Ketua PW NU Jatim Nuruddin A. Rahman ikut hadir.

Masalah lain juga bermunculan di sela-sela coblosan di dua kabupaten itu. Temuan-temuan tersebut kemarin diungkapkan tim Kaji dalam jumpa pers di Ponpes Ibnu Cholil, Bangkalan. "Tidak bisa dipungkiri lagi, pilgub putaran tambahan ini banyak sekali pelanggaran. Ini semua akan jadi pertimbangan kami untuk mengambil langkah selanjutnya," kata Khofifah yang kala itu didampingi Mudjiono dan para tim suksesnya.

Tim Kaji lantas membeber pelanggaran-pelanggaran itu. Di antaranya, seperti yang terjadi di Desa Saplasah, Kecamatan Sepuluh, Bangkalan. Mereka menemukan anak perangkat desa yang mencoblos berkali-kali. "Oleh tim kami, mereka sudah kami laporkan," kata Ketua Tim Sukses Kaji Bangkalan KH Imam Buchori.

Pelanggaran lain terjadi di Desa Karang Parasan, Blega. Mereka menemukan petugas KPPS di beberapa TPS memutuskan melakukan penghitungan lebih awal daripada jadwal yang ditetapkan. Selain itu, masih banyak pelanggaran lain yang mereka sebutkan.

Dalam kesempatan itu, Khofifah juga mengaku menemukan indikasi pelanggaran money politics oleh pesaingnya. "Untuk pelanggaran ini, kami akan bawa ke kepolisian," katanya.

Kuasa hukum Kaji M. MA'ruf bahkan mengaku akan mengajukan gugatan baru. Yakni, meminta agar pemerintah ''mencoret'' Sampang-Bangkalan dari daftar daerah peserta pilgub. "Putusan MK (Mahkamah Konstitusi) ternyata tidak membuat pelanggaran susut. Artinya, ada kesalahan mendasar di sana. Karena itu, sudah sepantasnya dua daerah ini dicoret saja," katanya.

Beragam pelanggaran juga terjadi di Sampang. Laporan yang masuk ke panwaskab menyebutkan, pelanggaran itu tidak hanya berasal dari simpatisan atau pendukung salah satu pasangan.

Seperti yang dilaporkan Abd. Aziz, 45, asal Desa Panyeppen, Kecamatan Jrengik, kepada panwaskab. Dalam laporannya, Abd. Aziz dan keluarganya mengaku diberi rokok dan kerudung dari anggota KPPS setempat kemarin malam, pukul 20.00.

"Bukan hanya rokok yang diberikan kepada saya dan warga lainnya. Ada yang diberi kerudung dalam jumlah besar oleh panitia pemilihan (KPPS, Red) di desa," ungkapnya kepada wartawan usai laporan.

Menurut Aziz, saat memberikan kerudung maupun rokok, anggota KPPS itu meminta agar warga menyoblos pasangan Karsa. "Artinya, warga memang dipengaruhi agar menyoblos pasangan Karsa. Ini kan sudah tidak baik, kami dibodohi," katanya.

Selain laporan dugaan KPPS yang terlibat pelanggaran, panwas juga menerima laporan lain. Berdasar data yang dihimpun koran ini, ada lima dugaan pelanggaran yang diproses panwas. Antara lain, dugaan money politics di Desa Gunung Maddah dan Desa Taman Sare, Kota Sampang. Kasus tersebut diduga dilakukan pihak yang mengaku pendukung Karsa. Selain itu, ada laporan dugaan kampanye hitam terhadap pasangan Kaji di beberapa desa. Salah satunya di Kecamatan Pangarengan. Kampanye hitam juga dilakukan terhadap pasangan Karsa di beberapa desa di Kecamatan Karangpenang dan Pangarengan.

KPU Jatim ketika dikonfirmasi kemarin masih akan menunggu hasil laporan resmi dari seluruh kejadian itu. "Kita lihat dulu seperti apa pelanggarannya. Tentu semua harus melalui prosedur," kata anggota KPU Arief Budiman.

Di tempat terpisah, cagub Soekarwo menampik semua tudingan indikasi pelanggaran pilgub yang mengarah pada dirinya. Dia menegaskan bahwa semua pelanggaran yang terjadi adalah wewenang penyelenggara pilgub.(ard)

Rabu, Januari 14, 2009

Hujan Mengguyur Jakarta Beberapa Lokasi Tergenang


KRC, JAKARTA
Hujan yang terus mengguyur Jakarta beberapa terakhir ini membuat beberapa lokasi di Ibu Kota tergenang.

Beberapa lokasi tidak bisa dilewati kendaraan, seperti di Kapuk Raya, Jakarta Utara, serta Jalan Perintis Kemerdekaan Depan RS Mediros, Jakarta Timur. Bahkan, permukiman di Pasar Minggu Pejaten Timur RT 017 RW 07, RT 05 RW 08, dan RT 16 RW 07 terendam hingga kurang lebih 100 cm.

Berikut lokasi yang terendam air berdasarkan data Traffic Management Center, Ditlantas Polda Metro Jaya.

Wilayah Jakarta Utara
1. Teluk Gong ± 20 cm
2. Kamal Raya ± 10 cm
3. Kapuk Raya 40 cm (tidak bisa dilintasi)
4. Muara Baru Ujung ± 20 cm
5. Depan Hotel Alexis ± 20 cm
6. Depan Balai Samudera Arah Barat ± 10 cm
7. Jalan Perintis Kemerdekaan Jalur Lambat depan ASMI Arah Timur ± 35 cm
8. Pos I Jalan RE Martadinata 10 cm
9. Depan SPBU Plumpang 25 cm
10. Depan Mall Artha Gading 15 cm

Wilayah Jakarta Selatan
1. Permukiman Pengadegan RT 08 dan 011 RW 01 ± 40 cm
2. Jagakarsa Tanjung Barat RT 10 dan 011 RW 01 ± 40 cm
3. Pemukiman Kebayoran Baru Petogokan RT 01, 02, 03 ± 50 cm
4. Pemukiman Pasar Minggu Pejaten Timur RT 017 RW 07, RT 05 RW 08, RT 16 RW 07 ± 100 cm
5. Permukiman Bukit Duri Tebet RT 11 dan RT 5 RW 10 ± 100 cm (don)

Senin, Desember 29, 2008

Partisipasi Warga Menurun Suara Kaji-Karsa Menyusut Dibeberapa Tempat Kaji Tak mau Tanda Tangan


KRC, PAMEKASAN -
Hasil final penghitungan ulang pilgub Jatim di Pamekasan memang belum ditentukan KPU setempat. Tapi, hasil rekapitulasi suara penghitungan ulang sementara yang dilakukan 13 PPK (panitia pemilihan kecamatan) tetap menempatkan pasangan Karsa (Soekarwo-Saifullah Yusuf) sebagai peraih suara tertinggi. Mereka mengungguli pasangan Kaji (Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono). Hanya, perolehan kedua pasangan calon sama-sama menurun.

Kaji menurun 331 suara, sedangkan Karsa menurun 745 suara. Selain itu, saat hitung manual tingkat PPK kemarin, diketahui 623 surat suara hilang.

Pada pilgub putaran kedua lalu, data rekapitulasi suara KPU Pamekasan menunjukkan hasil: partisipasi pemilih yang menggunakan haknya 417.871 atau 68 persen. Jumlah tersebut sesuai dengan surat suara yang ada di 1.540 kotak suara.

Hasil rekapitulasi suara sementara penghitungan ulang di 13 PPK kemarin, jumlah surat suara berkurang menjadi 417.248 atau hilang 623 suara. Hingga kemarin, KPU Pamekasan belum menjawab terkait menyusutnya surat suara tersebut.

Sedangkan jumlah suara yang tidak sah mengalami peningkatan, dari 5.480 menjadi 5.923 surat suara. Padahal, kotak suara pasca putaran kedua diamankan di gudang KPU dengan penjagaan ketat.

Hasil sementara rekapitulasi di 13 PPK kemarin, Kaji memperoleh 194.994 suara (47,41 persen). Jumlah ini menyusut 331 suara dibandingkan hasil pilgub putaran kedua, yakni 195.315 suara.

Begitu pula Karsa, perolehan suaranya menyusut 745 suara. Pada pilgub putaran kedua, Karsa memperoleh 217.076 suara, saat hitung ulang menjadi 216.331 suara.

Di bagian lain, Ketua KPU Pamekasan Imadoeddin tidak menjelaskan secara detail terkait menyusutnya suara dan hilangnya surat suara itu. "Banyak faktor yang memengaruhi. Kalau masalah berkurangnya surat suara, dipastikan karena adanya kesalahan teknis saat putaran kedua lalu," katanya.

Seperti diberitakan, penghitungan ulang di Pamekasan dilaksanakan Minggu lalu (28/12). Berdasarkan hasil sementara penghitungan ulang versi panwaskab pilgub, perolehan suara pasangan Kaji bertambah meski tidak signifikan. Disebutkan, suara Kaji menjadi 195.627. Hasil rekapitulasi KPU Pamekasan pada putaran kedua lalu, Kaji memperoleh lebih sedikit, yakni 195.315 suara. Ini berarti suara Kaji bertambah 312.Sebaliknya, meski tetap unggul, jumlah suara yang diperoleh Karsa menyusut. Masih menurut panwaskab pilgub di Pamekasan, dalam penghitungan ulang kemarin, Karsa memperoleh 216.636 suara. Jumlah ini berkurang sedikit dibanding hasil putaran kedua pilgub hasil rekapitulasi KPU Pamekasan yang mencapai 217.076 suara. Dengan demikian, perolehan pasangan Karsa menyusut 440 suara. Karena masih simpang siur, maka hasil akhirnya harus menunggu rekapitulasi yang dilakukan KPU Pamekasan.

Kaji Protes

Rekapitulasi suara penghitungan ulang tingkat panitia pemilihan kecamatan (PPK) kemarin diwarnai protes saksi pasangan Kaji. Penyebabnya, PPK tidak memberikan model C1-KWK.

Bahkan, di beberapa PPK, saksi Kaji menolak menandatangani berita acara rekapitulasi suara penghitungan ulang pilgub.

Berdasarkan pantauan wartawan di beberapa PPK, saksi Kaji rata-rata keberatan atas hasil penghitungan ulang. Mereka protes karena PPK tidak memperhatikan permintaan untuk mengeluarkan C1-KWK, yang berisi daftar pemilih tetap (DPT). Selain itu, mereka mempersoalkan kondisi surat suara yang ada di dalam kotak suara.

Seperti di PPK Kecamatan Kota Pamekasan. Saat anggota PPK hendak memulai rekapitulasi, saksi Kaji, Yulistina, interupsi. Dia minta rekapitulasi suara hasil penghitungan ulang tidak dilanjutkan sebelum C1-KWK dikeluarkan.

"Maaf. Saya keberatan jika rekapitulasi terus dilanjutkan. Sebab, hingga sekarang C1-KWK belum dikeluarkan atau dicetak. Padahal, itu merupakan dokumen penting untuk mengetahui langsung kondisi jumlah surat suara, termasuk tingkat kesesuaiannya dengan DPT," kata Yulistina.

Jika PPK tidak menunjukkan C1-KWK, dia akan menolak rekapitulasi. Alasannya, rekapitulasi melenceng dari SK KPU Nomor 18 dan 32/2008 tentang Tata Acara Penghitungan Ulang. "Intinya, saya atas nama Kaji tidak mau melanjutkan rekapitulasi ini," tegasnya.

Namun, kemudian Yulistina setuju rekapitulasi dilanjutkan setelah mendapat penjelasan dari Ketua PPK Sutha Wijaya. Dia minta saksi Kaji itu menulis keberatan di berita acara.

PPK yang menjadi lokasi pencoblosan pejabat teras Pamekasan saat putaran kedua itu mendapat penjagaan ketat dari polisi. Puluhan anggota Brimob lengkap dengan senjata laras panjang siaga di lokasi.

Hal serupa terjadi di Kecamatan Pegantenan. Saat rekapitulasi penghitungan ulang selesai, saksi Kaji menolak menandatangani berita acara. Alasannya sama, PPK Pegantenan tidak menunjukkan model C1-KWK kepada saksi dan masyarakat.

Di PPK Pademawu, sempat terjadi adu argumentasi antara saksi Kaji dan anggota PPK. Di sana saksi Kaji minta PPK menunjukkan dokumen yang berisi DPT, jumlah surat, dan lainnya. Namun, akhirnya saksi Kaji mau tanda tangan di berita acara. Tapi, dia menulis keberatan dengan tidak ditunjukkannya C1-KWK.

Begitu juga saksi Kaji di PPK Batumarmar, Galis, dan Larangan. Mereka menolak tanda tangan di berita acara hasil rekapitulasi suara penghitungan ulang.

Ketua Panwaskab Pilgub di Pemekasan Asir melalui Divisi Tindak Lanjut Badruttamam juga mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterima dari panwascam, rata-rata saksi Kaji menolak tanda tangan di berita acara rekapitulasi.

Ketua KPU Pamekasan Imadoeddin mengatakan, tidak tanda tangannya saksi Kaji tidak berpengaruh terhadap rekapitulasi suara penghitungan ulang."Artinya, sah tidaknya hasil rekapitulasi bukan karena ada atau tidaknya tanda tangan para saksi," katanya. (dd/pn)