Rabu, November 05, 2008

Barack Obama Diharapkan Jadi Presiden Pemersatu Dunia


KRC,CHICAGO -
Beruntunglah setiap orang yang diberi kesempatan hidup sampai 4 November 2008. Pada hari itu, sejarah tercipta di Amerika Serikat. Negara superpower yang sedang berada di bibir kehancuran itu kini menemukan momentum kebangkitannya. Sumber harapan itu muncul setelah Barack Hussein Obama, senator muda berkulit hitam yang lahir di Hawaii dari ibu Amerika dan ayah Kenya, menghabiskan empat tahun masa kecil di Jakarta, dan besar di Amerika itu, terpilih menjadi presiden ke-44 AS kemarin.

Menjadi kulit berwarna pertama penghuni Gedung Putih menempatkan Barack Hussein Obama kini sejajar dengan presiden legendaris AS lainnya, George Washington (presiden pertama dan proklamator kemerdekaan), Thomas Jefferson (presiden ketiga dan penyusun deklarasi kemerdekaan), dan Abraham Lincoln (presiden ke-16 yang menghapus perbudakan).

Terpilihnya senator Illinois yang baru berumur 47 tahun itu juga telah menghancurkan rasisme di AS yang 50 tahun lalu masih membuat warga kulit berwarna harus berbagi toilet, tempat duduk bus, dan sekolah dengan tetangganya warga kulit putih.

Fenomena Obama atau Obamanomena itulah yang membuat seluruh dunia ikut merayakan kemenangannya. Latar belakang yang beragam telah membuat Obama menjadi presiden untuk semua. Dari kampung-kampung kumuh di Nairobi, Kenya, tempat kelahiran bapaknya, Barack Hussein Obama Sr, sampai jalan-jalan di Jakarta, tempat masa kecilnya, hingga pusat perayaan di Grant Park, Chicago, seluruh warga bersukacita. Jawa Pos yang sedang berada di kampung halaman Obama itu menyaksikan sebagian besar di antara sekitar 200.000 pengunjung menumpahkan air mata saat Obama menyampaikan pidato kemenangan Selasa (4/11) malam waktu setempat atau kemarin siang WIB.

Setengah jam setelah penghitungan suara menunjukkan perolehan suara electoral-nya telah melewati "magic number" 270 (syarat minimal), Barack Obama tampil di panggung bersama istri, Michelle, serta dua putrinya, Sasha dan Malia. Dalam awal pidato kemenangannya, Obama menegaskan bahwa segalanya mungkin terjadi di AS. Dan, dia telah membuktikannya. "Jika ada seseorang di luar sana yang masih ragu bahwa Amerika adalah sebuah tempat yang memungkinkan segala sesuatu terjadi, yang masih bertanya-tanya apakah mimpi para pendiri bangsa ini masih bisa menjadi nyata di masa sekarang, yang masih mempertanyakan kekuatan demokrasi, malam ini pertanyaan Anda terjawab," kata Obama yang langsung disambut tepuk tangan membahana diselingi teriakan "Yes, We Can" berulang-ulang.

Dengan sportif, Obama juga menyampaikan terima kasih dan pujian kepada "musuh" politiknya selama enam bulan masa kampanye, John McCain. "Kita menjadi lebih baik berkat pengabdian pemimpin yang pemberani dan tidak egois ini. Saya mengucapkan selamat kepadanya (McCain); juga kepada Gubernur (Sarah) Palin. Dan, saya berharap bisa bekerja sama dengan mereka untuk bersama-sama memperbarui janji bangsa ini," ujarnya.

Pada bagian akhir, Obama menyebut semua orang terdekatnya, mulai sang istri tercinta Michelle yang disebutnya "batu karang" keluarga, dan menjanjikan anak anjing baru bagi dua putrinya, Sasha dan Malia, saat tinggal di Gedung Putih nanti, hingga saudara tirinya yang berdarah Indonesia, Maya Soetoro, di Hawaii. Kurang lebih 10 menit Obama menyampaikan pidato bersejarahnya yang terdengar seperti rangkaian kata mutiara itu.

Sebelum Obama tampil di panggung, John McCain lebih dahulu mengakui kekalahannya. Setelah hasil pemilihan di California muncul dan membuat Obama tak akan terkejar, pahlawan perang Vietnam itu memberikan pidato kekalahan di kampung halamannya, Phoenix, Arizona. Di momen yang seharusnya menyedihkan inilah jiwa kepahlawanan McCain terlihat.

Didampingi istrinya, Cindy, dan calon wakil presiden Sarah Palin, McCain menyampaikan selamat kepada Obama dan menyeru para pendukungnya mengakui kekalahan dan tetap berjuang bagi kemajuan AS. ''Wajar malam ini merasa kecewa. Namun, kami merasakan hanya sebentar, kegagalan ini adalah milikku, bukan milik Anda." ujarnya tegas

Dalam pidato singkat itu, dia meminta para pendukungnya maupun pendukung Obama untuk menyatukan perbedaan setelah pemilu. ''Amerika tak pernah mundur. Amerika tak pernah menyerah,'' katanya. (pidato lengkap baca di Halaman Internasional, Red).

Amerika Membiru

Pemilihan presiden AS tahun ini memang penuh warna. Selain menghasilkan presiden kulit hitam pertama, pilihan 130 juta rakyat AS (terbesar dalam sejarah Pilpres AS) juga mengubah peta dukungan pemilih. Hingga tadi malam, negara bagian biru (blue states) yang berarti mendukung Partai Demokrat dengan kandidat Barack Obama terus bertambah. Sebaliknya, negara bagian merah (red states) yang mendukung Partai Republik dengan kandidat John McCain makin susut.

Dari penghitungan suara, terlihat kunci kemenangan Obama atas John McCain adalah menguasai sejumlah negara bagian yang menjadi medan pertempuran (battlegrouns states), khususnya dua negara bagian kunci Ohio dan Pennsylvania. Selama ini tidak pernah ada presiden dari Republik yang kalah di Ohio.

Dengan dana USD 700 juta (Rp 7 triliun, terbesar lagi dalam sejarah pilpres AS) dan masa kampanye 21 bulan, Obama berhasil merebut daerah kantong Republik, seperti Indiana dan Virginia. Kedua negara bagian itu tidak pernah mendukung kandidat Demokrat dalam 44 tahun terakhir. Ohio dan Florida, yang menjadi pendulang suara vital Presiden Bush empat tahun lalu, juga berpaling ke Obama.

Dari penghitungan total suara (popular vote) yang masuk hingga tadi malam, Obama unggul dengan meraih 52,3 persen suara dan McCain tertinggal 46,4 persen. Namun, untuk penghitungan suara electoral, keunggulan Obama lebih mencolok, yakni 349 berbanding 147. Dewan electoral terdiri atas 538 orang dari 50 negara bagian yang komposisinya sesuai dengan jumlah perwakilan negara bagian di Kongres AS (435 anggota DPR AS/House of Representatives dan 100 anggota senat). Untuk menjadi presiden AS, para kandidat harus mengumpulkan setidaknya 270 suara electoral.

Suara electoral Obama banyak disumbang negara-negara bagian padat penduduk di dekat pantai, seperti California, Washington, New York, dan Florida. Sedangkan McCain didukung negara-negara bagian di pedalaman, seperti Texas, wilayah South, Midwest, dan kawasan Rocky Mountain. Tiga negara bagian yang belum diketahui sumbangan suara electoral-nya adalah Georgia, Missouri, dan North Carolina. Semua negara bagian itu dimenangkan Bush pada 2004.

Kemenangan Obama termasuk telak. Sebagai perbandingan, George W. Bush memenangi kursi presiden dua kali, namun tidak pernah meraih lebih dari 286 suara electoral.

Obama Sihir Dunia

Tak hanya di AS, kemenangan Obama juga "menyihir" dunia dengan janji-janjinya. Di seantero bumi, orang berbondong-bondong memenuhi lapangan, plaza-plaza, ruang terbuka, dan pub-pub untuk menantikan hasil pemilu AS. Dunia seakan diselimuti kesamaan hasrat untuk menjadi saksi sejarah yang akan berkumandang hingga melampaui batas-batas AS.

Di Kenya, tanah asal leluhur Obama, orang-orang membanjiri pesta-pesta semalam suntuk untuk mencermati hasil pemilihan. "Malam ini kita tidak akan tidur," kata Valentine Wambi, 23, mahasiswa University of Nairobi, yang berencana bergabung dengan ratusan mahasiswa lain di Ibu Kota Kenya untuk sebuah pesta pemilu. Sekalipun warga Kenya yakin kemenangan Obama tidak akan banyak mengubah kehidupan mereka, hal itu tidak menghalangi mereka memasang potret Obama di minibus-minibus. Pernak-pernik seperti kaus bergambar Obama dijual di berbagai penjuru Kenya.

Di Moneygall, sebuah desa di Irlandia, pesta kemenangan Obama juga berlangsung meriah. Pasalnya, mengacu pada penelitian disimpulkan bahwa leluhur Obama yang bernama Joseph Kearney bermukim di sana sebelum berimigrasi ke AS.

Di Jerman, hasil pemilu AS mendominasi surat kabar, situs internet, dan televisi. Di Paris, salah satu di antara sejumlah perayaan "kurang sopan" yang direncanakan adalah pesta "Goodbye George" untuk mengucapkan selamat berpisah kepada Presiden AS George W. Bush. "Sebagaimana halnya rakyat Prancis kebanyakan, saya gembira Obama menang karena akan benar-benar menjadi isyarat datangnya perubahan," kata Vanessa Doubine, yang tengah berbelanja di Champs-Elysees, Selasa. Kemenangan Obama diharapkan dapat mengubah citra AS.

Demam Obama tidak hanya mewabah di seantero Eropa, tetapi juga menjalar hingga ke pelosok dunia Islam. Umat muslim mengutarakan harapan, Obama dapat mengedepankan kompromi daripada konfrontasi. "Kemenangan Obama membuat dunia ingin menyaksikan AS memperlihatkan sikap politik yang lebih universal dan kosmopolitan," ungkap Rais Yatim, Menlu Malaysia.

Satu-satunya negara di Timur Tengah yang sedih atas kemenangan Obama adalah Israel. Negara Yahudi itu melihat John McCain punya sikap yang lebih tegas terhadap Iran. Sebagian besar rakyat Israel diyakini mendukung McCain dengan pertimbangan dia akan dapat berbuat lebih banyak untuk melindungi keamanan negara dari lontaran rudal Iran.

Para pemimpin Israel memang selama ini tidak secara terbuka menyebutkan siapa kandidat yang mereka dukung. Tetapi, diam-diam mereka menyampaikan keprihatinan terhadap Obama, yang telah membangkitkan kekhawatiran ketika mengatakan dirinya siap berdialog dengan Teheran.

Demam pemilu juga melanda Vietnam, tempat McCain pernah dipenjara sebagai tahanan perang lebih dari lima tahun. Pesawat yang dikemudikannya ditembak jatuh di Hanoi setelah melakukan pengeboman pada 1967. "Dia (McCain) patriotik," kata Le Lan Anh, seorang novelis Vietnam. "Sebagai tentara, dia datang ke sini untuk menghancurkan negara saya. Tetapi, saya mengagumi martabatnya," kata Le.

Indonesia pasti tak mau ketinggalan. Di negara tempat Obama menghabiskan empat tahun masa kecilnya itu perayaan paling meriah terjadi di Sekolah Dasar Menteng, Jakarta Pusat. Sekolah yang pernah menjadi tempat Obama menuntut ilmu itu beberapa hari terakhir memang terlihat sibuk menyambut pilpres AS. "Setiap pagi, sebelum pelajaran dimulai, kita selalu berdoa untuk Barry. Semoga dia menang dalam pemilihan ini," kata Kepala SD Menteng Kuswadiyanto penuh semangat.

Ketika angka-angka di layar kaca menunjukkan kemenangan Obama, ratusan siswa berhamburan ke berbagai arah menuju lapangan meski gerimis mulai turun. Dengan membawa foto Obama mereka meloncat-loncat kegirangan, tak peduli pada hujan. Bagi mereka kemenangan Obama adalah kemenangan mereka. Mereka bangga karena pernah ada murid dari tempat itu yang bisa menjadi presiden AS. (AP/BBC/CNN/eas/don)

Selasa, November 04, 2008

Suara Karsa Mengkuatirkan Kaji Menang Tipis


KRC, Surabaya -

Hasil perhitungan suara sementara yang dilakukan oleh tiga lembaga survei pada Pigub Jatim putaran kedua menunjukan suara pasangan Khofifah-Mudjiono (KaJi) berhasil mengungguli suara pasangan Soekarwo-Syaifullah Yusuf (KarSa).Sayangnya, meski suara pasangan KaJi unggul tipis dari KarSa, mereka tidak berani memastikan siapa pemenang dalam pertarungan pemilihan gubernur Jatim ini."Kami tidak berani memastikan siapa yang memenangkan pilgub ini. Karena margin of error atau tingkat kesalahan seharusnya 1-2 persen. Namun selisih angka dua pasangan ini kurang dari 1-2 persen," kata Moch Adam Kamil, peneliti Lembaga Survey Indonesia (LSI) kepada wartawan di Hotel Mercure, Jalan Raya Darmo, Surabaya, Selasa (4/11/2008).Data yang berhasil dihimpun wartawan, dari penghitungan cepat yang dilakukan Lembaga Survey Indonesia (LSI), pasangan KaJi memperoleh suara sebanyak 50, 44 persen, dan KarSa mendapat 49,56 persen.Jumlah suara itu didapat LSI dari sample 400 TPS yang tersebar di 65 ribu TPS yang ada di Jawa Timur.Sedangkan dari perhitungan cepat Lingkaran Survey Nasional yang mereka lakukan di 400 TPS di seluruh Jatim, KaJi meraup 50,76 persen dan KarSa meraih 49,24 persen.Sementara dari rilis Lembaga Survei Nasional (LSN) yang diterima detiksurabaya.com, pasangan KaJi memperoleh 50,71 persen, sedangan KarSa selisih tipis dengan memperoleh 49,29 persen.(ar)

Masyarakat Jatim di Minta Tunggu Perhitungan Resmi KPU


KRC, SURABAYA

Calon Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf yakin ia dan Soekarwo menang satu persen dibandingkan Khofifah-Mudjiono. Namun, pihaknya masih menunggu sampai ada hasil penghitungan resmi putaran kedua Pemilihan Gubernur Jawa Timur dari KPU.
Saifullah mengatakan, hasil sejumlah hitung cepat menunjukkan selisih perolehan suara kedua pasangan calon di bawah satu persen. Padahal, batas kesalahan perhitungan minimal satu persen.
"Saya sudah tanya ke Saiful (Saiful Mujani, Lembaga SUrvei Indonesia), Denny (Denny JA, Lingkaran Survei Indonesia), dan Asfar (M Asfar, Pusdeham Universitas Airlangga). Para pakar survei itu menyatakan sulit sekali menentukan pemenang berdasarkan hitung cepat saja," ujarnya di Surabaya, Selasa (4/11).
Ia juga mengklaim Karsa menang 1 persen dibandingkan Kaji. Klaim itu didasarkan pada hasil penghitungan internal tim Karsa. Namun, tidak diungkapkan penghitungan itu menggunakan data dari berapa TPS.(dd)

Senin, November 03, 2008

Pangeran Charles Masuk Istana Kepresidenan


KRC,JAKARTA

Setelah memberikan kuliah umum di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla beserta menteri Kabinet Indonesia Bersatu di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (3/11) siang, pewaris tahta Kerajaan Inggeris Pangeran Charles mengunjungi Wapres Kalla di Istana Wapres.

Wapres Kalla sampai terlebih dulu di Istana Wapres, pukul 12.10. Tak lama kemudian disusul Pangeran Charles beserta rombongan. Petugas terpaksa menggelar karpet merah secara tergesa-gesa di lobi Istana Wapres, mengingat rombongan Pangeran Charles sudah berada di jalan menuju Istana Merdeka.
Saat sampai di ruang lobi Istana Wapres, Pangeran Charles menandatangani buku tamu yang telah disediakan, kemudian masuk ke Istana dan disambut Wapres Kalla. Selanjutnya mereka berfoto bareng sebelum diajak masuk ke ruang pertemuan.
Wapres ditemani Deputi Seswapres Bidang Kesejahteraan Asyumardi Azra dan Deputi Seswapres Bidang Politik Djohermansyah Djohan. Adapun Pangeran Charles didampingi empat orang stafnya.
Pertemuan berlangsung sekitar 12 menit dalam ruang tertutup. Sambil mengoborol berdua, Wapres Kalla dan Pangeran Charles berjalan melintas menuju lobi Istana. Tak ada keterangan resmi dari kedua pejabat tinggi negara itu. Hanya ada foto bersama yang diabadikan para fotografer sebelum Pangeran Charles dan rombongan meninggalkan Istana Wapres.(don)

Penembak Jitu Disiapkan 30 Brimob Tinggal Tunggu Komando Eksekusi


KRC,CILACAP,

SEkitar 30 Brimob penembak jitu yang bertugas untuk mengeksekusi mati tiga terpidana mati Amrozi Cs, sudah disiagakan di sekitar kawasan Cilacap. Begitu ada perintah eksekusi, 30 Brimob pilihan tersebut,telah siap untuk menembak mati Amrozi Cs.

"Iya,tim (brimob) eksekutornya berjumlah 30 orang. Mereka sudah siap," tegas Kepala Biro Operasional Polda Jateng Sahala Palagan di Bandara Tunggul Wulung,Cilacap, Minggu (2/11).

Namun mengenai eksekusinya, pemegang kendali ada di pihak Kejaksaan. Begitu ada perintah dari Kejaksaan, tiga regu eksekutor ini akan menjalankan tugasnya.

Dijelaskan Palagan, untuk pengamanan pelaksanaan eksekusi,telah diterjunkan ke aparat Brimob di Nusakambangan. Secara keseluruhan, kesiapan pelaksanaan eksekusi Amrozi Cs sudah matang.

Di Pusdiklat Kopasus cabang Cilacap,terlihat sekitar 10 truk polisi yang digunakan mengangkut Brimob. Di Pusdiklat tersebut,perahu-perahu karet untuk mengangkut petugas keamanan ke Nusakambangan juga telah disiapkan.
Sesuai UU Nomor 2/Pnps/1964, setiap terpidana mati dieksekusi dengan cara ditembak mati. Setiap terpidana, ditembak oleh satu regu eksekutor yang berjumlah 10 orang. Jika tembakan pertama tidak berhasil mematikan terpidana,maka dilakukan tembakan kedua yang dipastikan bisa mematikan. (es)

Rabu, Oktober 29, 2008

Memanas Bursa Capres AS Obama Nyaris Tertembak


KRC,TENNESSEE -

Upaya kelompok rasis menjegal langkah Barack Obama menjadi presiden AS berkulit hitam pertama ternyata bukan isapan jempol. Polisi di negara bagian Tennessee, AS, kemarin menangkap dua pria yang dicurigai berencana membunuh kandidat presiden dari Partai Demokrat itu. Kedua tersangka itu bernama Daniel Cowart, 20, dari Bells, Tennessee, dan Paul Schlesselman, 18, dari Helena-West Helena, Arkansas. Mereka ditangkap dengan sejumlah senjata di mobilnya pada Rabu 22 Oktober lalu dan mulai disidangkan di Pengadilan Federal Memphis, Tennessee, kemarin.Motif rasis untuk membunuh Obama terungkap dalam dokumen pengadilan. Sebelum membunuh senator yang pernah tinggal di Jakarta saat masa kecil itu, kedua tersangka berniat membantai 88 orang, termasuk memenggal 14 kepala keturunan Afrika-Amerika. Angka 14 dan 88 adalah simbol supremasi orang kulit putih. Angka 14 merujuk pada semboyan supremasi yang terdiri atas 14 kata, yakni We must secure the existence of our people and a future for white children. Sedangkan 88 adalah kata sandi untuk dua huruf kedelapan alfabet, HH, yang merupakan kependekan dari salam Heil Hitler yang biasa diberikan kepada pemimpin fasis Jerman, Hitler.Agen khusus di Biro Alkohol, Tembakau, Senjata Api, dan Bahan Peledak (ATF) Nashville, Tennessee, Jim Cavanaugh dalam sidang mengatakan, Cowart dan Schlesselman berkenalan melalui internet satu bulan lalu. "Keduanya langsung kompak karena memiliki kepercayaan dan pandangan yang sama tentang White Power dan Skinhead," ungkap Cavanaugh. Gerakan White Power dan Skinhead adalah sama-sama gerakan rasial kulit putih neo-NAZI yang tumbuh di AS dan Eropa dan sangat antiwarga kulit hitam.Gawatnya, setelah saling sepakat tentang gerakan yang mendukung dominasi ras kulit putih itu, keduanya berencana melakukan pembunuhan masal di Tennessee. Sebuah sekolah kulit hitam sudah mereka incar untuk aksi pembantaian itu. Jika sukses, mereka akan memburu Obama sebagai sasaran terakhir. "Mereka tidak yakin bisa melakukannya, tetapi mereka akan berusaha membunuhnya," ujar Cavanaugh.Untuk plot aksi itu, Cowart telah membeli satu senapan dan memiliki dua senjata tangan yang dicuri dari kakeknya. Sedangkan Schlesselman memiliki senapan dan pistol yang diambilnya dari ayahnya tanpa izin. Keduanya berencana mencuri senjata yang lebih dahsyat dari toko senjata di Jackson, Tennessee, serta melakukan serangkaian perampokan untuk membiayai rencana berdarah mereka. "Setelah senjata terkumpul, Schlesselman menyatakan berencana membawa mobilnya sedekat mungkin menuju Obama dan menembaknya dari balik jendela," kata Weaks.Tak cuma perlengkapan dan skenario yang rapi, kedua psikopat kulit putih itu juga menyiapkan kostum yang dikenakan saat menembak Obama. Kepada penyidik, mereka menyatakan akan menggunakan tuksedo putih dan topi selama upaya pembunuhan itu. "Keduanya tahu bisa tewas akibat aksi gila itu, namun mereka bersedia menempuh risiko itu," tambah Weaks.Pengadilan Federal Memphis juga diberi keterangan oleh para saksi bahwa sesaat sebelum mereka ditangkap, Cowart dan Schlesselman membeli makanan, tali nilon, dan topeng ski. Mereka juga berencana merampok sebuah rumah pada 21 Oktober. Tetapi buru-buru rencana itu dibatalkan ketika mereka melihat anjing dan dua kendaraan pemilik rumah.Mereka juga menembaki jendela sebuah gereja lokal di Brownsville, Tennessee, sebelum berkendara pulang menuju rumah kakek Cowart, tempat mereka menorehkan beberapa simbol dan kata-kata rasis, termasuk simbol Swastika dan angka 14 serta 88 ke atap mobil Cowart, sebelum akhirnya ditangkap Rabu lalu. Kedua laki-laki itu akan disidang kembali di pengadilan federal Memphis pada Kamis (30/10).Pejabat jaksa AS untuk Tennessee Lawrence Laurenzie mengatakan, tuduhan-tuduhan yang diajukan dalam perkara kriminal itu sangat serius dan mereka terancam dijatuhi hukuman berat. "Masyarakat dapat sepenuhnya yakin bahwa penegak hukum bekerja sama untuk menyelidiki dan menuntut aktivitas yang didakwakan," ujarnya. Juru bicara Secret Service (agen pengamanan presiden/SS) Eric Zahren mengatakan, tidak jelas apakah kedua tersangka mempunyai kemampuan menjalankan aksinya. Namun, masalah itu dianggap serius dan penyelidikan melibatkan tim gabungan sedang dilakukan. Sementara itu, juru bicara tim kampanye Obama saat mengikuti kampanye Obama di Pennsylvania, Linda Douglass, menolak berkomentar. "Kami tidak pernah mengomentari masalah keamanan," ujarnya.Obama, yang telah menorehkan sejarah dengan menjadi kandidat presiden AS berkulit hitam pertama dari sebuah partai politik utama, telah berada di bawah pengawalan ketat SS. Pengawalan terhadap Obama bahkan diberikan sejak Mei 2007, lebih awal ketimbang kandidat presiden mana pun. Ancaman pembunuhan terhadap Senator Illinois tersebut bukan yang pertama. Agustus lalu tiga pria yang terbukti menyembunyikan senjata ditangkap di Denver, Colorado, tempat Konvensi Partai Demokrat. Tetapi, para jaksa mengatakan, tidak ada bukti kuat mereka berencana membunuh Obama. Sebulan kemudian, seorang pria Florida didakwa mengancam akan melukai Obama. Namun, belakangan pria itu juga terbukti tidak bersalah. (AP/Rtr/AFP/don)

SBY Tak Akan Bantu Aulia Pohan Besannya Kalau Memang Salah Hukum Tetap Harus Ditegakkan


KRC, Jakarta

- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengemukkan, hukum dan keadilan harus ditegakkan terkait kasus dugaan korupsi Aulia Pohan. Presiden sadar tidak akan mengintervensi kasus hukum yang menyangkut besannya."Kalau Aulia Pohan bersama-sama yang lain dianggap melakukan kesalahan dalam konteks ini tentu dia, proses penegakan hukum ditegakkan. Saya tidak boleh mengintervensi, saya tidak boleh mencampuri karena ini semangat kita semua," ujar Presiden di Sekretariat Negara, Jakarta, Rabu (29/10).Presiden minta semua pihak menyerahkan penanganan kasus Aulia Pohan pada proses hukum. "Salah atau tidak salah, seberapa besar kesalahan Pak Aulia Pohan nanti, kesalahan pribadi atau kesalahan kolektif, marilah kita serahkan sepenuhnya kepada proses penegakan hukum karena menjadi dambaan kita hukum dan keadilan meskiditegakkan," ujarnya.Presiden sebagai pemimpin merasa harus memelihara keadilan dalam diri dan ini berlaku bagi semua. "Mudah-mudahan ini menjadi pemicu semangat kita semua untuk sekali lagi melakukan sesuatu yang terbaik bagi kita, bagi negeri kita, bagi rakyat kita," ujarnya.(eas)