Selasa, November 04, 2008

Masyarakat Jatim di Minta Tunggu Perhitungan Resmi KPU


KRC, SURABAYA

Calon Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf yakin ia dan Soekarwo menang satu persen dibandingkan Khofifah-Mudjiono. Namun, pihaknya masih menunggu sampai ada hasil penghitungan resmi putaran kedua Pemilihan Gubernur Jawa Timur dari KPU.
Saifullah mengatakan, hasil sejumlah hitung cepat menunjukkan selisih perolehan suara kedua pasangan calon di bawah satu persen. Padahal, batas kesalahan perhitungan minimal satu persen.
"Saya sudah tanya ke Saiful (Saiful Mujani, Lembaga SUrvei Indonesia), Denny (Denny JA, Lingkaran Survei Indonesia), dan Asfar (M Asfar, Pusdeham Universitas Airlangga). Para pakar survei itu menyatakan sulit sekali menentukan pemenang berdasarkan hitung cepat saja," ujarnya di Surabaya, Selasa (4/11).
Ia juga mengklaim Karsa menang 1 persen dibandingkan Kaji. Klaim itu didasarkan pada hasil penghitungan internal tim Karsa. Namun, tidak diungkapkan penghitungan itu menggunakan data dari berapa TPS.(dd)

Senin, November 03, 2008

Pangeran Charles Masuk Istana Kepresidenan


KRC,JAKARTA

Setelah memberikan kuliah umum di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla beserta menteri Kabinet Indonesia Bersatu di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (3/11) siang, pewaris tahta Kerajaan Inggeris Pangeran Charles mengunjungi Wapres Kalla di Istana Wapres.

Wapres Kalla sampai terlebih dulu di Istana Wapres, pukul 12.10. Tak lama kemudian disusul Pangeran Charles beserta rombongan. Petugas terpaksa menggelar karpet merah secara tergesa-gesa di lobi Istana Wapres, mengingat rombongan Pangeran Charles sudah berada di jalan menuju Istana Merdeka.
Saat sampai di ruang lobi Istana Wapres, Pangeran Charles menandatangani buku tamu yang telah disediakan, kemudian masuk ke Istana dan disambut Wapres Kalla. Selanjutnya mereka berfoto bareng sebelum diajak masuk ke ruang pertemuan.
Wapres ditemani Deputi Seswapres Bidang Kesejahteraan Asyumardi Azra dan Deputi Seswapres Bidang Politik Djohermansyah Djohan. Adapun Pangeran Charles didampingi empat orang stafnya.
Pertemuan berlangsung sekitar 12 menit dalam ruang tertutup. Sambil mengoborol berdua, Wapres Kalla dan Pangeran Charles berjalan melintas menuju lobi Istana. Tak ada keterangan resmi dari kedua pejabat tinggi negara itu. Hanya ada foto bersama yang diabadikan para fotografer sebelum Pangeran Charles dan rombongan meninggalkan Istana Wapres.(don)

Penembak Jitu Disiapkan 30 Brimob Tinggal Tunggu Komando Eksekusi


KRC,CILACAP,

SEkitar 30 Brimob penembak jitu yang bertugas untuk mengeksekusi mati tiga terpidana mati Amrozi Cs, sudah disiagakan di sekitar kawasan Cilacap. Begitu ada perintah eksekusi, 30 Brimob pilihan tersebut,telah siap untuk menembak mati Amrozi Cs.

"Iya,tim (brimob) eksekutornya berjumlah 30 orang. Mereka sudah siap," tegas Kepala Biro Operasional Polda Jateng Sahala Palagan di Bandara Tunggul Wulung,Cilacap, Minggu (2/11).

Namun mengenai eksekusinya, pemegang kendali ada di pihak Kejaksaan. Begitu ada perintah dari Kejaksaan, tiga regu eksekutor ini akan menjalankan tugasnya.

Dijelaskan Palagan, untuk pengamanan pelaksanaan eksekusi,telah diterjunkan ke aparat Brimob di Nusakambangan. Secara keseluruhan, kesiapan pelaksanaan eksekusi Amrozi Cs sudah matang.

Di Pusdiklat Kopasus cabang Cilacap,terlihat sekitar 10 truk polisi yang digunakan mengangkut Brimob. Di Pusdiklat tersebut,perahu-perahu karet untuk mengangkut petugas keamanan ke Nusakambangan juga telah disiapkan.
Sesuai UU Nomor 2/Pnps/1964, setiap terpidana mati dieksekusi dengan cara ditembak mati. Setiap terpidana, ditembak oleh satu regu eksekutor yang berjumlah 10 orang. Jika tembakan pertama tidak berhasil mematikan terpidana,maka dilakukan tembakan kedua yang dipastikan bisa mematikan. (es)

Rabu, Oktober 29, 2008

Memanas Bursa Capres AS Obama Nyaris Tertembak


KRC,TENNESSEE -

Upaya kelompok rasis menjegal langkah Barack Obama menjadi presiden AS berkulit hitam pertama ternyata bukan isapan jempol. Polisi di negara bagian Tennessee, AS, kemarin menangkap dua pria yang dicurigai berencana membunuh kandidat presiden dari Partai Demokrat itu. Kedua tersangka itu bernama Daniel Cowart, 20, dari Bells, Tennessee, dan Paul Schlesselman, 18, dari Helena-West Helena, Arkansas. Mereka ditangkap dengan sejumlah senjata di mobilnya pada Rabu 22 Oktober lalu dan mulai disidangkan di Pengadilan Federal Memphis, Tennessee, kemarin.Motif rasis untuk membunuh Obama terungkap dalam dokumen pengadilan. Sebelum membunuh senator yang pernah tinggal di Jakarta saat masa kecil itu, kedua tersangka berniat membantai 88 orang, termasuk memenggal 14 kepala keturunan Afrika-Amerika. Angka 14 dan 88 adalah simbol supremasi orang kulit putih. Angka 14 merujuk pada semboyan supremasi yang terdiri atas 14 kata, yakni We must secure the existence of our people and a future for white children. Sedangkan 88 adalah kata sandi untuk dua huruf kedelapan alfabet, HH, yang merupakan kependekan dari salam Heil Hitler yang biasa diberikan kepada pemimpin fasis Jerman, Hitler.Agen khusus di Biro Alkohol, Tembakau, Senjata Api, dan Bahan Peledak (ATF) Nashville, Tennessee, Jim Cavanaugh dalam sidang mengatakan, Cowart dan Schlesselman berkenalan melalui internet satu bulan lalu. "Keduanya langsung kompak karena memiliki kepercayaan dan pandangan yang sama tentang White Power dan Skinhead," ungkap Cavanaugh. Gerakan White Power dan Skinhead adalah sama-sama gerakan rasial kulit putih neo-NAZI yang tumbuh di AS dan Eropa dan sangat antiwarga kulit hitam.Gawatnya, setelah saling sepakat tentang gerakan yang mendukung dominasi ras kulit putih itu, keduanya berencana melakukan pembunuhan masal di Tennessee. Sebuah sekolah kulit hitam sudah mereka incar untuk aksi pembantaian itu. Jika sukses, mereka akan memburu Obama sebagai sasaran terakhir. "Mereka tidak yakin bisa melakukannya, tetapi mereka akan berusaha membunuhnya," ujar Cavanaugh.Untuk plot aksi itu, Cowart telah membeli satu senapan dan memiliki dua senjata tangan yang dicuri dari kakeknya. Sedangkan Schlesselman memiliki senapan dan pistol yang diambilnya dari ayahnya tanpa izin. Keduanya berencana mencuri senjata yang lebih dahsyat dari toko senjata di Jackson, Tennessee, serta melakukan serangkaian perampokan untuk membiayai rencana berdarah mereka. "Setelah senjata terkumpul, Schlesselman menyatakan berencana membawa mobilnya sedekat mungkin menuju Obama dan menembaknya dari balik jendela," kata Weaks.Tak cuma perlengkapan dan skenario yang rapi, kedua psikopat kulit putih itu juga menyiapkan kostum yang dikenakan saat menembak Obama. Kepada penyidik, mereka menyatakan akan menggunakan tuksedo putih dan topi selama upaya pembunuhan itu. "Keduanya tahu bisa tewas akibat aksi gila itu, namun mereka bersedia menempuh risiko itu," tambah Weaks.Pengadilan Federal Memphis juga diberi keterangan oleh para saksi bahwa sesaat sebelum mereka ditangkap, Cowart dan Schlesselman membeli makanan, tali nilon, dan topeng ski. Mereka juga berencana merampok sebuah rumah pada 21 Oktober. Tetapi buru-buru rencana itu dibatalkan ketika mereka melihat anjing dan dua kendaraan pemilik rumah.Mereka juga menembaki jendela sebuah gereja lokal di Brownsville, Tennessee, sebelum berkendara pulang menuju rumah kakek Cowart, tempat mereka menorehkan beberapa simbol dan kata-kata rasis, termasuk simbol Swastika dan angka 14 serta 88 ke atap mobil Cowart, sebelum akhirnya ditangkap Rabu lalu. Kedua laki-laki itu akan disidang kembali di pengadilan federal Memphis pada Kamis (30/10).Pejabat jaksa AS untuk Tennessee Lawrence Laurenzie mengatakan, tuduhan-tuduhan yang diajukan dalam perkara kriminal itu sangat serius dan mereka terancam dijatuhi hukuman berat. "Masyarakat dapat sepenuhnya yakin bahwa penegak hukum bekerja sama untuk menyelidiki dan menuntut aktivitas yang didakwakan," ujarnya. Juru bicara Secret Service (agen pengamanan presiden/SS) Eric Zahren mengatakan, tidak jelas apakah kedua tersangka mempunyai kemampuan menjalankan aksinya. Namun, masalah itu dianggap serius dan penyelidikan melibatkan tim gabungan sedang dilakukan. Sementara itu, juru bicara tim kampanye Obama saat mengikuti kampanye Obama di Pennsylvania, Linda Douglass, menolak berkomentar. "Kami tidak pernah mengomentari masalah keamanan," ujarnya.Obama, yang telah menorehkan sejarah dengan menjadi kandidat presiden AS berkulit hitam pertama dari sebuah partai politik utama, telah berada di bawah pengawalan ketat SS. Pengawalan terhadap Obama bahkan diberikan sejak Mei 2007, lebih awal ketimbang kandidat presiden mana pun. Ancaman pembunuhan terhadap Senator Illinois tersebut bukan yang pertama. Agustus lalu tiga pria yang terbukti menyembunyikan senjata ditangkap di Denver, Colorado, tempat Konvensi Partai Demokrat. Tetapi, para jaksa mengatakan, tidak ada bukti kuat mereka berencana membunuh Obama. Sebulan kemudian, seorang pria Florida didakwa mengancam akan melukai Obama. Namun, belakangan pria itu juga terbukti tidak bersalah. (AP/Rtr/AFP/don)

SBY Tak Akan Bantu Aulia Pohan Besannya Kalau Memang Salah Hukum Tetap Harus Ditegakkan


KRC, Jakarta

- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengemukkan, hukum dan keadilan harus ditegakkan terkait kasus dugaan korupsi Aulia Pohan. Presiden sadar tidak akan mengintervensi kasus hukum yang menyangkut besannya."Kalau Aulia Pohan bersama-sama yang lain dianggap melakukan kesalahan dalam konteks ini tentu dia, proses penegakan hukum ditegakkan. Saya tidak boleh mengintervensi, saya tidak boleh mencampuri karena ini semangat kita semua," ujar Presiden di Sekretariat Negara, Jakarta, Rabu (29/10).Presiden minta semua pihak menyerahkan penanganan kasus Aulia Pohan pada proses hukum. "Salah atau tidak salah, seberapa besar kesalahan Pak Aulia Pohan nanti, kesalahan pribadi atau kesalahan kolektif, marilah kita serahkan sepenuhnya kepada proses penegakan hukum karena menjadi dambaan kita hukum dan keadilan meskiditegakkan," ujarnya.Presiden sebagai pemimpin merasa harus memelihara keadilan dalam diri dan ini berlaku bagi semua. "Mudah-mudahan ini menjadi pemicu semangat kita semua untuk sekali lagi melakukan sesuatu yang terbaik bagi kita, bagi negeri kita, bagi rakyat kita," ujarnya.(eas)

Rabu, Oktober 22, 2008

Jelang Pilkada Kota Madiun Si Jago Merah Ngamuk


KRC,Madiun -
Jelang Pilkada Kota Madiun si Jago Merah mengamuk, lahap Pasar besar Kota Madiun. Diperoleh keterangan Api yang membakar Pasar Besar Madiun mulai membesar dan merembet ke stand-stand yang sebelumnya tidak tersentuh api. Pedagang semakin panik setelah mendengar suara ledakan dari dalam pasar.
Api yang merembet itu terletak sisi timur lantai dua pasar, tepatnya di stand yang berjualan sembako dan ayam potong. Dugaan sementara, api merembet berasal
dari stand yang ada di lantai dua.
Sementara itu di lokasi kebakaran terdengar beberapa kali suara ledakan. Ledakan itu membuat panik pedagang dan petugas pemadam kebakaran. Asal ledakan masih belum bisa diketahui.
Hingga pukul 07.00 WIB, api masih menguasai Pasar Besar Madiun. Ratusan pedagang terpantau memadati jalan dan menjaga barang dagangan yang masih bisa diselamatkan.
Barang yang bisa diselamatkan itu sebagian besar adalah sembako. Pasar Besar Madiun terbakar dini hari tadi. Ratusan lapak dan stand ludes dilalap si jago mereka.(kk)

Perang Pilpres Para Jendral SBY Unggul Wiranto Sodok Prabowo



KRC, JAKARTA,
- Jika Pemilu dilakukan sekarang, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) punya peluang terbesar masih dipilih oleh rakyat. Sebab, hasil survei terakhir yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI), SBY berada di peringkat pertama sebesar 32 persen dari total 1.239 responden.

Megawati Soekarnoputri membayang-bayangi di peringkat kedua dengan perolehan 24 persen. Yang menarik, nama Wiranto menyodok di urutan ketiga dengan 6 persen, mengalahkan Prabowo yang memperoleh 5 persen dan Sultan HB X yang meraih 4 persen. Survei dilakukan dari total 28 nama yang disodorkan dalam pertanyaan semi terbuka terhadap responden.

Hasil tersebut diumumkan Direktur LSI Syaiful Mujani di kantornya, Jl Lembang Terusan, Menteng, Jakarta, Minggu (19/10). Survei diadakan pada 8-20 September 2008 dengan wawancara tatap muka dengan responden WNI yang berumur 17 tahun ke atas yang memiliki hak pilih dalam pemilu.

Hasil survei tersebut, menurut Syaiful, sikap elektoral pemilih terhadap capres dalam dua tahun terakhir cukup fluktuatif. Berdasar survei ini, SBY masih menjadi calon yang paling banyak akan dipilih bila pemilihan Presiden dilakukan sekarang. Dari enam nama capres yang diajukan dalam simulasi (SBY, Mega, Wiranto, Sultan, Prabowo dan Sutiyoso) dan empat nama (tanpa Sultan dan Sutiyoso), maka urutan dan perbedaan perolehan suara di antara mereka tidak banyak berubah.

"Dalam tiga tahun terakhir, SBY selalu berada di urutan pertama kecuali survei Juni 2008, karena SBY waktu itu kalah oleh Megawati," kata Syaiful. Dikatakan Syaiful, dukungan pada SBY dan Mega dalam satu tahun terakhir (dengan calon banyak) kurang lebih sama dengan perolehan suara mereka di Pilpres putaran pertama Juli 2004.
(don)