Rabu, Januari 02, 2008

Molor Proyek MOG

Tiga Kali Terhenti Proyek MOG Molor
Koran Rakyat,MALANG -
Renovasi Stadion Gajayana dan pembangunan empat sarana olahraga lainnya yang menjadi bagian dari proyek Malang Olimpic Garden (MOG) molor dari jadwal yang ditetapkan. Dalam adendum kerjasama antara Pemkot Malang dan PT Mustika Taman Olimpic (MTO), renovasi dan pembangunan itu mestinya selesai 31 Desember 2007, namun hingga kini masih belum terealisasi. Meski begitu, pihak PT MTO selaku investor tidak mendapat sanksi apapun dari pemkot. "Ya kami akui tidak bisa selesai pada 31 Desember untuk semuanya. Kami akan selesaikan secepatnya di masa perpanjangan ini," ungkap Direktur PT MTO Iskandar Rubianto di balai kota, kemarin.Memang, sesuai dengan perjanjian kerjasama pasal 12, pemkot harus memberikan perpanjangan waktu enam bulan ke depan untuk menyelesaikannya. Pasal 12 ayat 4 disebutkan, kecuali bukan karena kondisi force majeure (bencana), pihak investor diberikan perpanjangan waktu selambat-lambatnya enam bulan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Apalagi, pengerjaan yang dilakukan oleh investor diklaim telah mencapai minimal 75 persen.Apa penyebab molornya pembangunan itu? Iskandar mengatakan, kemoloran tersebut karena kondisi hujan. Dia juga menyebut karena faktor lain yang tidak dijelaskannya secara detail. Atas keterlambatan itu, Iskandar akhirnya berani berjanji pada Mei 2008 semua sarana olahraga akan selesai dan siap pakai. Sebab kondisi pembangunan sekarang sudah hampir selesai. Sekitar 80 persen sarana olahraga sudah selesai dikerjakan. "Mei paling lambat," janjinya sebelum masuk ke mobil pribadinya.Sarana olahraga yang harus selesai Desember 2007 sesuai perjanjian adalah Stadion Gajayana beserta fasilitas penunjangnya, sebuah lapangan sepak bola terbuka, lima lapangan tenis terbuka, sebuah lapangan basket terbuka, dan sebuah lapangan voli terbuka.Apakah akan mengajukan adendum lagi? Iskandar mengatakan tidak. Alasannya, kalau ada adendum kedua, maka dikhawatirkan pekerjaan tidak akan selesai. Kondisi itu kurang baik bagi pekerjaan pembangunan. Sebab akan mundur dan mundur lagi. Sementara jangka waktu pengelolan tetap 30 tahun (tidak dimundurkan). "Lebih baik ada denda ketimbang adendum. Kalau didenda kan kami bisa menekan staf agar bekerja lebih cepat dan giat," tegasnya.Untuk diketahui, pembangunan kompleks MOG mengalami keterlambatan untuk kali ketiga. Keterlambatan pertama adalah saat pembangunan awal Januari 2007 lalu. Keterlambatan kedua terjadi pertengahan tahun sehingga harus ada adendum (perubahan/penambahan) pada nota perjanjian. Terpisah, Asisten II Sekkota Malang Sutiarsi mengatakan untuk perkembangan pekerjaan, pihaknya masih melakukan inventarisir di lapangan. Apakah sudah mencapai 75 persen atau belum. Terutama lima pekerjaan sarana olahraga yang dimaksud dalam perjanjian kerjasama.Kalau nantinya pekerjaan sudah lebih dari 75 persen, maka klausul pasal 12 ayat 4 berlaku. Sehingga investor pun tak mendapat sanksi kecuali teguran dan harus menyelesaikan pekerjaan paling lambat enam bulan ke depan. "Kalau perjanjian menegaskan itu, ya akan diberikan perpanjangan enam bulan," katanya. (kup/neD)

86 Wartawan Tewas tahun 2007 Saat lakukan Tugas


Sedikitnya 86 Wartawan Tewas Sepanjang 2007

Koran Rakyat PARIS -

Sedikitnya 86 wartawan di seluruh dunia tewas selama 2007. Mereka menemui ajal saat menjalankan tugas jurnalistik. Jumlah ini meningkat 244 persen dibanding 2002 dimana jumlah wartawan yang tewas sebanyak 25 orang. Demikian laporan yang dikeluarkan Reporters Sans Frontiers (Wartawan Tanpa Batas), Rabu (2/1).
Menurut laporan tersebut, sebanyak 47 wartawan tewas di Irak, delapan di Somalia, enam di Pakistan, tiga di Srilanka, masing-masing dua di Eritrea, Mexico, Afghanistan, Nepal dan Filipina. Sisanya tersebar di berbagai negara.
Sebagai tambahan, 20 pekerja media, kebanyakan bekerja sebagai petugas teknik, juga tewas saat bertugas dalam menunjang tugas wartawan.
"Sekitar 90 persen kasus itu pelakunya tidak dihukum. Otoritas setempat mempermainkan waktu dengan harapan publik melupakannya. Tujuannya tentu saja untuk melindungi pelaku," tulis laporan tersebut.
Laporan itu juga menyebutkan, sebanyak 877 wartawan dipenjara sepanjang 2007 dan lebih dari 1.500 diserang polisi dan pasukan keamanan. Sedikit-dikitnya, 67 wartawan dilaporkan diculik dan 528 karya media disensor serta 2.676 halaman online ditutup. (Mbk/kr)

Pemprov Panggil Investor Jalan Tol

Pemprov Panggil Investor

Koran Rakyat, Surabaya
Pemprov rupanya penasaran melihat proyek tol tengah kota Aloha-Perak yang tak kunjung dimulai. Hari ini, PT Margaraya Jawa Tol (MJT) dipanggil untuk ditanya soal kelanjutan proyek Rp 6 triliun lebih itu.

"Kalau dalam pertemuan itu investor menyatakan angkat tangan, skenario mencari investor baru akan dijalankan. Tapi, kalau investor masih komit dan sanggup memenuhi persyaratan, termasuk menyerahkan jaminan, silakan diteruskan," jelas Asisten Bidang Pembangunan Setdaprov Chairul Djaelani.

Sebelumnya, Departemen PU menetapkan PT MJT sebagai investor tol tengah kota. Yakni, mulai Aloha-Wonokromo-Perak sepanjang 18,6 kilometer. Kemudian, dibuatlah perjanjian pengusahaan jalan tol (PPJT) antara investor dan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Departemen PU.

Dalam PPJT bernomor 07/PPJT/VII/Mn/2007 tertanggal 19 Juli 2007 itu, PT MJT dibebani tiga jaminan. Yakni, jaminan pelaksanaan (10 persen dari nilai proyek), jaminan pembukaan rekening tanah, dan penyetoran dana tanah tahap pertama sebesar lima persen. Proyek jalan tol dengan nilai investasi Rp 6,4 triliun tersebut dijadwalkan mulai beroperasi pada 2010.

Menurut Chairul, hingga saat ini, belum ada aksi dari investor tol tengah. Pihaknya belum menerima laporan apa pun mengenai terhentinya proyek tersebut. "Yang jalan hanya tol Waru-Juanda. Tol tengah nggak ada kabar," jelasnya.

Chairul menjelaskan, investor mestinya terbuka dengan pemprov atau pemkot. "Kalau memang ada masalah keuangan atau pembahasan lahan, kami siap membantu kok. Kalau diam saja seperti ini, jadi bingung kan," katanya.

Terkait dengan permasalahan pendanaan, Chairul mengatakan ada beberapa solusi. Di antaranya, memamasukkan pemodal lain dengan membentuk konsorsium baru sehingga investor dapat suntikan dana segar atau lewat bantuan pemerintah. Solusi lain yang ditawarkan adalah meminta pinjaman lunak dari negara lain atau sindikasi perbankan nasional.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Jatim Edy Wahyudi sepakat dengan solusi yang ditawarkan pemprov. Menurut dia, solusi terbaik untuk mempercepat pembangunan tol tengah adalah konsorsium baru. "Paling aman adalah membentuk konsorsium dari BUMD yang ada," jelas Edy.

Edy beralasan, BUMD memiliki jaringan yang luas, baik dengan investor dalam negeri maupun luar negeri. Dengan demikian, masalah pendanaan tidak akan terjadi. Selain itu, penunjukan BUMD tidak akan memakan waktu lama layaknya pergantian investor. Proyek pun bisa cepat dijalankan. "Tinggal membuat PP (peraturan pemerintah, Red), jalan sudah. Kalau menunjuk investor baru, kan harus pakai tender, paling tidak satu tahun baru bisa jalan," tegasnya. (on)

Diah Enggan Rubah Penampilan



Diah Permatasari Emoh Ubah Penampilan
Koran Rakyat,Jakarta
--Di tahun 2008 ini, ada embel-embel yang kini melekat di depan nama bintang sinetron Diah Permatasari. Yap, bintang sinetron Si Manis Jembatan Ancol itu, kini menyandang gelar ibu hajjah, setelah baru saja menjalani ibadah haji di tanah Suci Makkah, beberapa pekan lalu.
Meski begitu, ia mengaku enggan mengubah citra diri yang selama ini dibangunnya. "Hajjah itu hanya predikat. Yang penting saya telah menjalankan rukun iman. Kalau soal penampilan, di tahun ini saya tak terlalu berjanji akan banyak berubah," kata Diah saat dihubungi Rabu (2/1).
Toh, menurutnya, penampilan yang tertutup bukanlah jaminan. "Yang berpenampilan tertutup belum tentu juga bisa menutup hatinya. Buat saya yang terpenting bagaimana saya bisa meningkatkan keimanan dan keyakinan kepada Allah SWT," ujarnya.
Diakui perempuan kelahiran Solo, 25 Januari 1971 itu, banyak pengalaman dan keajaiban yang ia temui saat menunaikan Ibadah Haji. "Benar-benar luar biasa dan mengesankan. Banyak hal yang aku anggap miracle. Alhamdulillah aku mendapatkan kemudahan. Semua lancar tanpa halangan," ungkapnya.
Tahun telah berganti. Sebuah asa pun disandarkan perempuan jangkung bersuami Anton Wahyu Jatmiko itu. Katanya, ia berharap bisa menjalani kehidupan yang lebih baik di banding tahun sebelumnya.
Hal itu pula lah yang ia canangkan untuk kariernya. "Insya Allah, setelah dua tahun vakum, saya akan kembali lagi syuting. Perlahan tapi pasti," ujarnya.
Sayangnya, Diah enggan membocorkan sinetron apa yang hendak dibintanginya itu. "Belum bisa aku sebutkan sekarang. Nanti saja deh," kilah Diah. (diah)

Koran Rakyat Online Welcome Tahun 2008


Seluruh Wartawan dan Karyawan Koran Rakyat Online

Dan

Koran Rakyat News Edisi Cetak

Mengucapkan

Welcome Tahun 2008 semoga Sukses Selalu


Pimpinan Redaksi

Eko Anang Sutrisno

Selasa, Januari 01, 2008

KOran Rakyat online Welcome 2008



Segenap Karyawan dan Wartawan Koran Rakyat Online
Dan Koran Rakyat News Mengucapkan
Welcome 2008 Semoga Sukses Selalu
Pimpinan Redaksi
Eko Anang Sutrisno,SE

Aneh Bupati Suruh Korban Bencana Ambil Bantuan Sendiri



Rakyat Minta Bantuan, Bupati Suruh Ambil Sendiri
Koran Rakyat,
BOJONEGORO - Warga Kota Bojonegoro benar-benar melewati malam pergantian tahun dalam suasana prihatin. Kontras dari kota lain yang ingar-bingar menyambut Tahun Baru, ibu kota daerah kaya minyak itu tadi malam gelap gulita karena listrik masih padam. Radar Bojonegoro (Grup Jawa Pos) melaporkan, meski surut sekitar 15-20 cm, banjir masih menggenang setinggi dada orang dewasa. Yang lebih parah, bantuan belum terbagi optimal karena lemahnya koordinasi pemerintah daerah dengan tim Badan SAR Nasional (Basarnas). Kepala Basarnas (Kabasarnas) Laksda TNI Bambang Karnoyudho mengungkapkan, tim Basarnas sulit mendistribusikan bantuan secara tepat karena tidak paham betul daerah mana yang memang masyarakatnya membutuhkan bantuan. "Akhirnya, siapa yang minta bantuan, ya kami kasih, walaupun kami tidak tahu mereka layak atau tidak," jelasnya kemarin (31/12).Dia mengungkapkan, upaya pemulihan pascabencana sebenarnya menjadi tugas pemkab dan muspida setempat. Namun, sampai hari ketiga bencana banjir kemarin, pemkab dan muspida masih sulit diajak berkoordinasi. Bahkan, saat diundang rapat koordinasi penanganan bencana pada Minggu (30/12) malam, tidak ada seorang pun dari pemkab yang hadir. "Masak yang hadir cuma Satpol PP. Lha bupati dan pejabat lainnya tidak hadir," ujarnya.Karnoyudho juga mengeluhkan kurangnya koordinasi antara aparat keamanan dengan Basarnas. Akibatnya, dia sempat ragu memarkir helikopternya di Alun-Alun Kota Bojonegoro. "Masak tidak ada petugas keamanan sama sekali," katanya.Bukan hanya Kabasarnas yang mengeluhkan lemahnya koordinasi bantuan, warga korban banjir juga merasa pemberian bantuan sangat lambat. Keluhan itu bahkan muncul dari korban banjir yang hanya berjarak 1-2 km dari posko satkorlak kabupaten di alun-alun kota. "Baru pukul 10 tadi (kemarin) kami dikirimi bungkusan nasi," ungkap Sumirah, warga Ledok Wetan, yang mengungsi di depan kantor PMI Bojonegoro kemarin. Kondisi Sumirah itu juga dialami warga banjir di sekitar satkorlak serta pendapa kabupaten seperti di Jalan Hasyim Asyari, Panglima Sudirman, Hasanuddin, Mastrip, dan M.H. Thamrin. Rata-rata mereka mengeluhkan tidak kunjung datangnya bantuan makanan matang serta obat-obatan. Padahal, mereka sangat dekat dengan posko bantuan bencana. Saat dikonfirmasi soal belum terkoordinasinya penyaluran bantuan itu, Bupati Bojonegoro M. Santoso membantah. Seperti pernyataan-pernyataan sebelumnya, dia beralasan distribusi bantuan tersendat akibat tidak ada peralatan untuk mengangkut bantuan menuju tempat-tempat pengungsian. "Perahu boat yang tersedia masih digunakan untuk evakuasi warga yang terjebak banjir," katanya. Bantahan juga datang dari Kapolwil Bojonegoro Kombespol Bambang S.W. Setelah menerima kunjungan Kapolda Irjen Pol Herman S. Sumawiredja kemarin (31/12), Bambang mengakui bahwa dirinya belum bisa memaksa anak buahnya untuk bekerja secara optimal. Sebab, beberapa sarana dan prasarana yang dimiliki kini juga kebanjiran. "Saya masih fokuskan agar anggota menyelamatkan keluarga. Kalau keluarganya belum diselamatkan, mana bisa menyelamatkan orang lain?" tuturnya.Mengenai belum tertanganinya warga terisolasi di sekitar Posko Satkorlak, Santoso malah meminta agar para korban banjir itu berinisiatif mendatangi posko untuk meminta bantuan. "Mereka kan dekat, kenapa tidak datang saja ke posko langsung?" kata Santoso yang selama banjir tinggal di rumah dinas, kompleks kabupaten, Jalan Mas Tumapel, yang terbebas dari genangan air. Menurut pengamatan koran ini di lapangan, warga Kota Bojonegoro sekitar posko memang kesulitan untuk datang langsung ke Posko Satkorlak. Genangan air yang masih sampai sedada orang dewasa membuat aktivitas keluar rumah sangat berisiko. Belum lagi, ada persyaratan untuk membuktikan kelayakan mereka mendapatkan bantuan. "Saat di Posko Satkorlak, kami ditanya mewakili korban banjir daerah mana? Apa buktinya? Jadi malah susah," ujar Majid, warga Jalan Diponegoro yang rumahnya tergenang air hingga sepinggang.Berdasar pantauan hingga kemarin sore, rata-rata permukaan banjir di Kota Bojonegoro menurun 10 cm-30 cm. Jika dibandingkan dengan hari sebelumnya, arus air yang masuk ke Kota Bojonegoro tak seberapa besar. Kondisi itu terlihat di berbagai jalan utama kota yang airnya turun dan arusnya tak begitu besar.Papan duga permukaan air Kota Bojonegoro juga mulai menunjukkan penurunan yang cukup drastis. Jika hari sebelumnya masih menunjukkan angka di atas 16 peischaal (satuan duga permukaan air), kemarin itu turun di angka 15. Kepala Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah (BPSAW) Bengawan Solo di Bojonegoro Pudjo Guntoro menjelaskan, turunnya permukaan air itu tetap harus diwaspadai karena pada Minggu (30/12) sore di daerah Solo (hulu Bengawan Solo, Red) turun hujan. "Area yang digenangi banjir berpindah ke wilayah timur, searah dengan aliran Bengawan Solo," katanya. Bergesernya banjir itu juga terlihat dari jebolnya tanggul di Baureno. Kepala Badan Kesbanglinmas Soedaryanto kepada wartawan koran ini menjelaskan, saat ini 126 desa di 15 kecamatan terkena banjir akibat luapan Bengawan Solo. Hanya, untuk kerugian, dia belum dapat menjelaskan secara rinci. "Kalau korban jiwa, kami belum mendapatkan laporan," tegasnya. Kunjungan Gubernur Tertutupnya jalur utama menuju Bojonegoro dan sebaliknya membuat rombongan Gubernur Jawa Timur Imam Utomo yang berkunjung kemarin pagi terhenti di depan Stasiun Kota Bojonegoro. Untuk menuju Pemkab Bojonegoro, mereka naik trailer hingga pertigaan Sumbang karena akses jalan masih tergenang. Selanjutnya, rombongan naik perahu boat menyusuri Jalan Diponegoro hingga depan Lapas Bojonegoro. Mereka lantas berjalan kaki menuju pemkab yang berjarak sekitar 500 meter.Di kantor pemkab, gubernur diterima Bupati Bojonegoro M. Santoso, Komandan Kodim 0813 Letkol Inf Kup Yanto Setyono, dan Kapolwil Bojonegoro Kombespol Bambang Soerjo Wardjoko.Usai mendapat penjelasan dari bupati, gubernur mengunjungi daerah banjir dengan perahu boat. Rombongan gubernur menyusuri Jalan Hasyim Asyari, Jalan Panglima Sudirman, Jalan Hasanudin, Jalan Mastrip, Jalan M.H. Thamrin, Jalan Masjid, dan kembali lagi ke Jalan Panglima Sudirman serta kembali ke pendapa.Di tengah perjalanan, gubernur sempat berhenti dan berdialog dengan warga. Setelah itu gubernur memanggil sejumlah pejabat serta berdiskusi untuk mempercepat pengurangan genangan air di Kecamatan Kota Bojonegoro.Kepada wartawan koran ini Imam Utomo menjelaskan, banjir di Bojonegoro lebih parah daripada di Ngawi. "Di sini semua terendam, sementara di sana hanya jalurnya yang putus," katanya.Agar genangan air cepat surut, gubernur meminta pompa air di Kota Bojonegoro sebanyak 3 unit, ditambah dari milik Balai Besar Bengawan Solo Pemprov serta Dirjen Pengairan. "Namun, itu kita lakukan setelah air surut hingga ketinggian 14,14 meter," tegasnya.Gubernur juga menyerahkan sejumlah bantuan di antaranya uang tunai Rp 150 juta serta 13 truk berisi makanan siap saji seperti biskuit dan susu bantal. Sebelumnya 3 ribu dos mi instan juga sudah diberikan. Banjir Rambah LamonganSementara itu, ketinggian air di Bengawan Solo di perbatasan Lamongan-Bojonegoro naik drastis kemarin. Puluhan rumah di sekitar tanggul daerah Bedaan, Kecamatan Babat, Lamongan, terendam setinggi atap. Sedikitnya 150 warga mengungsi. Sebuah genset milik PDAM Lamongan yang berfungsi mengalirkan air ke pusat penjernihan juga terendam.Bupati Lamongan Masfuk beserta Dirjen PU dan Bina Marga saat mengunjungi Babat, Lamongan, mengatakan, semua daya akan dikerahkan untuk membantu korban banjir. Namun, hingga kini tangul tangkis negara di pinggiran Bengawan Solo cukup kuat untuk menahan air. (jpnn/kup)